- Back to Home »
- SIFAT PROTOPLASMA
Posted by : ADLIYAH TAMRINI
Selasa, 23 Desember 2014
Sifat protoplasma
1. a. Tak
tersaring
b. Efek
tyndall
|
Efek
Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel
koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek
tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika
Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall. Efek tyndall adalah
efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati
disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya,
sedangkan pada sistem koloid cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena
partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk
dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati,
partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit
dan sangat sulit diamati. Jadi, Larutan koloid protoplasma
dapat memantulkan cahaya bila arah datang sinar tepat mengenai sistem koloid,maka
cahaya akan menembus larutan protoplasma.
c. Gerak
brown
Gerak Brown ialah gerakan
partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu
(gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra,
maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk
zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu
zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat
cair dan gas( dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat padat hanya
beroszillasi di tempat ( tidak termasuk gerak brown ). Untuk koloid dengan medium
pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan
tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut
berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka
tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu
resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga
terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat. Gerak zig-zag akibat tabrakan dari partikel pendispersi menyebabkan sistem koloid tetap stabil, tetap homogen, dan tidak mengendap. Gerak Brown merupakan faktor penyebab stabilnya partikel koloid dalam medium dispersinya. Gerak brown yang terus menerus dapat mengimbangi gaya gravitasi sehingga partikel koloid tidak mengalami sedimentasi (pengendapan).
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat. Gerak zig-zag akibat tabrakan dari partikel pendispersi menyebabkan sistem koloid tetap stabil, tetap homogen, dan tidak mengendap. Gerak Brown merupakan faktor penyebab stabilnya partikel koloid dalam medium dispersinya. Gerak brown yang terus menerus dapat mengimbangi gaya gravitasi sehingga partikel koloid tidak mengalami sedimentasi (pengendapan).
Jadi, protoplasma dapat bergerak
didalam sel dengan Gerak brown : gerak
acak, zig-zag, tak teratur karena molekul dalam protoplasma saling bertubrukan,
partikel dalam protoplasma tersebar dengan arah tak beraturan sehingga keadaan
protoplasma tetap stabil dan tidak mengalami pengendapan.
|
d. Viskositas
Secara fisis, protoplasma
mempunyai viskositas yang bervariasi, tergantung pada ukuran serta densitas
(kepadatan) partikel yang ada di dalamnya. Viskositas protoplasma pada suatu
sel dapat berbeda dari bagian yang lain. Keadaan ini dapat dilihat pada sel
ameba. Bagian luar sitoplasma ameba(eksoskeleton) mempunyai viskositas yang
lebih tinggi daripada bagian dalam (endoplasma). Hal ini memungkinkan ameba
dapat bergerak menggunakan kaki semu.
|
Mengingat bahwa komponen utama dari
protoplasma adalah air maka sifat protoplasma juga tidak jauh berbeda dari
sifat air, baik sifat fisika maupun sifat kimia. Karena viskositas air relatif
rendah, air mudah mengalir ke seluruh bagian ruang antar sel di dalam tubuh
hewan. Kandungan air yang cukup tinggi dalam cairan tubuh hewan menyebabkan
aliran darah berlangsung lancar.
Sifat air mengandung nilai
fisiologis antara lain :
a.
Air
dapat melarutkan kristal garam (misal : NaCl). Garam NaCl yang larut dalam air
akan membentuk hidrat Na dan Cl
b.
Air
dapat melarutkan senyawa organik netral yang mempunyai gugus fungsional,
contohnya gula
c.
Air
dapat mendispersikan senyawa amfipatik. Senyawa amfipatik yaitu senyawa yang
mempunyai gugus hidrofob (non polar) pada satu sisi dan hidrofil (polar) pada
sisi lainnya. Contohnya : fosfolipid penyusun membran sel.
e. Koagulasi
Koagulasi
adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya
koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koloid akan mengalami
koagulasi dengan cara:
·
Mekanik. Cara mekanik dilakukan dengan
pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat.
·
Kimia.
Dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam).
Terdapat
beberapa gaya pada sistem koloid yang menentukan kestabilan koloid, yaitu
sebagai berikut :
·
Gaya pertama ialah gaya tarik – menarik yang
dikenal dengan gaya London – Van der Waals. Gaya ini menyebabkan partikel –
partikel koloid berkumpul membentuk agregat dan akhirnya mengendap.
·
Gaya kedua ialah gaya tolak menolak. Gaya ini
terjadi karena pertumpangtindihan lapisan ganda listrik yang bermuatan sama.
Gaya tolak – menolak tersebut akan membuat dispersi koloid menjadi stabil
·
Gaya ketiga ialah gaya tarik – menarik antara
partikel koloid dengan medium pendispersinya. Terkadang, gaya ini dapat
menyebabkan terjadinya agregasi partikel koloid dan gaya ini juga dapat
meningkatkan kestabilan sistem koloid secara keseluruhan
Salah satu
faktor yang mempengaruhi stabilitas koloid ialah muatan permukaan koloid.
Besarnya muatan pada permukaan partikel dipengaruhi oleh konsentrasi elektrolit
dalam medium pendispersi. Penambahan kation pada permukaan partikel koloid yang
bermuatan negatif akan menetralkan muatan tersebut dan menyebabkan koloid
menjadi tidak stabil.
Pada protoplasma,molekul-molekul yang
ada dalam cairan protoplasma dapat
bergerak bebas dan mendapat gaya tolak yang sama besar pada semua jurusan
akibat muatan yang sama. Hal ini menyebabkan partikel koloid tidak mengalami sedimentasi
(pengendapan) karena dapat mempertahankan stabilitas koloid. Namun jika muatan
ion berlawanan, maka gaya tarik besar, sehingga tidak ada pergerakan bebas,
sehingga partikel akan mengalami pengendapan.
|
Daftar pustaka
http://nuranimahabbah.wordpress.com
