- Back to Home »
- menyusuri angkasa delta
Posted by : ADLIYAH TAMRINI
Minggu, 21 Desember 2014
|
|
Menyusuri Udara di Angkasa Delta
Kota Delta Sidoarjo merupakan salah satu kota industri di
Propinsi Jawa Timur. Selain sebagai kota industri, ternyata kota Delta Sidoarjo
juga menyimpan banyak misteri, beberapa diantaranya berupa Candi, yaitu Candi
Sumur, Candi Pari, Candi Wangkal dan sebagainya. Disamping itu, kota ini pun
juga menyimpan tragedi, diantaranya yaitu “Tragedi Semburan Fluida Logam Berat”
di kawasan Porong yang lebih sering disebut sebagai “Tragedi Lumpur Lapindo”.
Tragedi Semburan Fluida Logam Berat atau Tragedi Lumpur Lapindo ini merupakan
suatu tragedi di bawah tanggung jawab PT Lapindo Berantas.
Pada
28 Mei 2006, sekitar pukul 22.00 WIB terjadi kebocoran gas hidrogen sulfida (H2S)
di areal ladang eksplorasi gas Rig 01, lokasi Banjar Panji perusahaan PT.
Lapindo Brantas di Desa Ronokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo yang kemudian bermuara menjadi semburan lumpur berlogam berat seperti yang
dapat kita lihat sekarang di kawasan Porong, Sidoarjo.
gambar. keadaan tanaman daerah lumpur lapindo
sumber : dok.pribadi
Peristiwa luapan Lumpur Lapindo berdampak pada kehidupan masyarakat di
sekitarnya, baik secara ekologis, ekonomi, dan sosial. Secara ekologis, lumpur
lapindo mencemari tanah, air maupun udara sekitar. Tanah terkontaminasi
oleh zat-zat beracun, salah satunya adalah kandungan logam berat (Hg) yang
melebihi batas baku mutu. Air telah bercampur dengan lumpur. Bahkan banyak
organisme air yang mati karena adanya pencemaran. Gas yang dikeluarkan
menggangu kesehatan makhluk hidup di sekitarnya. Secara ekonomi, Indonesia telah mengeluarkan dana untuk menanggulangi
dampak Lapindo, dimana dana membengkak hingga
mencapai 7,6 trilliun rupiah pada tahun
2007 (indosiar.com), dan pendanaan masih berlanjut hingga tahun 2013 sebesar
845,129 milliar rupiah (antaranews.com) hingga sekarang. Selain itu, peristiwa lumpur lapindo menambah pengangguran
di Indonesia sebesar 20 ribu orang pada tahun 2007 (seputar-indonesia.com).
Secara sosial, lumpur lapindo mengakibatkan terhambatnya ruas jalan tol
Malang-Surabaya sehingga kegiatan transportasi dan distribusi terganggu.
Salah satu pencemaran yang
diakibatkan oleh luapan lumpur Lapindo adalah pencemaran udara. Udara yang
dikeluarkan dari luapan lumpur tersebut mengandung senyawa kimia yang
membahayakan, yakni Hidrokarbon dan Hidrogen Sulfida (H2S).
Tingkat
hidrokarbon di udara mencapai 55.000 ppm dari ambang batas normal yang hanya
0,24 ppm (menurut Walhi lewat siaran persnya berdasarkan surat rekomendasi
Gubernur Jawa Timur tanggal 24 Maret 2008). tim
kajian kelayakan permukiman menginformasikan bahwa gas Hidrokarbon yang
keluar dari retakan tanah merupakan jenis metana dengan kadar sekitar 2.100 –
50.000 ppm.
Gas methane adalah senyawa kimia
dengan formula kimia CH4. Efek gas Methane diantaranya dapat menyebabkan ledakan dan kebakaran
tingkat tinggi apabila bercampur dengan udara, dapat merusak ozon dan merusak
kesehatan manusia terutama pernapasan akan terganggu apabila gas methane yang
berada di dalam atmosfer mengurangi kadar oksigen dibawah 19,5%.
Kandungan hidrokarbon yang tinggi dapat
mengakibatkan sesak nafas bahkan tercekik pada manusia. Pada kandungan 1000 ppm
saja, paling lama 8 jam waktu yang aman terpapar gas ini. Bisa dibayangkan apa yang
akan terjadi jika bertahun–tahun mendapatkan paparan. Tidak heran jika kemudian terjadi kematian
warga yang tidak terdiagnosa dengan baik penyebabnya. Walhi Jawa Timur mencatat
sekurangnya 5 warga telah meninggal akibat buruknya kondisi lingkungan yang
ada. Bahkan Kondisi ini
menyebabkan meningkatnya penderita ISPA pada tahun 2007 hingga lebih dari 46
ribu jiwa, 2 kali lipat dari penderita tahun 2006 yang hanya 23 ribu.
gambar. gas lumpur lapindo
sumber : dok. pribadi
Saat ini gas methane dalam efek rumah kaca
merupakan gas kedua dan yang paling berbahaya dibandingkan karbon dioksida.
Dalam selang periode tertentu setiap ton methane yang lepas sebanding dengan 72
ton gas karbon dioksida yang lepas ke udara. Gas methane berdampak 25 kali
lebih besar dari karbon dioksida, dan ketika berada di atmosfer, gas itu memberi
dampak 72 kali lebih besar dan membuat sebuah perbedaan yang besar. Banyaknya
methane yang lepas dari dalam bumi menyebabkan dampak methane terhadap
pemanasan global jauh lebih besar dan lebih cepat.
Selain gas hidrokarbon, Hasil
Laboratorium Forensik Polri Surabaya menunjukkan bahwa gas lumpur mengandung Hidrogen Sulfida (H2S) kadar tinggi. Kadar H2S bahkan sempat mengalami
peningkatan. Yang sebelumnya 13 ppm menjadi 19 ppm. Padahal sebelumnya rata-rata kandungan H2S yang
termasuk kelompok gas beracun itu hanya 9-13 ppm.
Hidrogen Sulfida terbentuk dari proses
penguraian bahan-bahan organis oleh bakteri. Maka dari itu H2S
terdapat dalam minyak dan gas bumi. Beberapa karakteristik H2S diantaranya : Sangat beracun dan
mematikan, tidak berwarna, lebih berat dari udara sehingga cendrung berkumpul
dan diam pada daerah yang rendah, dapat terbakar dengan nyala api berwarna biru
dan hasil pembakarannya gas sulfur Dioksida (SO2) yang juga
merupakan gas beracun, sangat korosif, pada konsentrasi yang rendah berbau
seperti telur busuk dan dapat melumpuhkan indera penciuman manusia.
Efek samping semburan
lapindo berupa pencemaran udara oleh gas – gas beracun memang tidak
memungkinkan adanya pencegahan secara intensif, namun penggunaan masker dapat
mengurangi resiko paparan gas beracun tersebut.
sumber : penulis
sumber : penulis

Informasi yg bermanfaat bagi pengetahuan.. Kini jadi mengerti senyawa2 yg dikandung oleh gas lumpur lapindo yg sangat beracun.. Thanks infonya min
BalasHapus